HIV dan AIDS

Apa Itu HIV dan AIDS?

Human Immunodeficiency Virus atau yang biasa disebut HIV merupakan suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang. Selanjutnya virus tersebut akan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan berbagai penyakit dan infeksi.

Penyakit HIV yang tidak langsung diobati akan semakin parah dan memasuki stadium akhir dari infeksi. Stadium akhir dari infeksi HIV tersebut biasa kita kenal dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) sehingga kondisi tubuh sudah tidak dapat lagi untuk melawan infeksi yang ditimbulkan dari virus HIV.

Penyebab HIV/AIDS

Tanpa berpihak dari jenis kelamin, usia maupun orientasi seksualnya, setiap orang dapat terinfeksi HIV. Faktor risiko terjadinya HIV/AIDS yaitu penularan melalui darah maupun cairan kelamin. Namun, HIV tidak dapat menular melalui keringat maupun urine.

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang terinfeksi HIV, antara lain:

  • Penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang lain
  • Melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan
  • Melakukan hubungan seksual yang berisiko terjadinya penyakit menular seksual, seperti seks anal dan berhubungan intim tanpa pengaman
Gejala HIV/AIDS

Munculnya infeksi HIV melalui tiga tahap atau stadium:

     1.   Stadium satu

Pada fase pertama, orang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami beberapa gejala seperti sakit flu. Hal tersebut akan berlangsung selama satu hingga dua bulan setelah terinfeksi.

Namun, setelah mengalami kondisi tersebut, gejala yang ditimbulkan oleh HIV akan menghilang selama beberapa tahun.

Beberapa gejala awal penyakit HIV yang sering terjadi yaitu:

  • Demam tinggi.
  •  Muncul ruam di kulit.
  •  Sakit kepala dan nyeri otot.
  • Muncul pembengkakan pada kelenjar getah bening di daerah tenggorokan, paha maupun ketiak.
  •  Kehilangan berat badan secara perlahan walaupun tidak melakukan diet.

Gejala awal penyakit HIV diatas mirip dengan infeksi penyakit lainnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, maka perlu dilakukan tes HIV secara berkala di rumah sakit.

     2.   Stadium dua

Pada fase kedua, infeksi HIV yang telah berada di dalam tubuh berlangsung tanpa menimbulkan gejala. Virus tersebut akan menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh walaupun pengidap HIV tetap merasa sehat tanpa gejala.

Fase ini dapat berlangsung 10 tahun bahkan lebih. Meskipun begitu, pengidap HIV tersebut sudah dapat menularkan infeksi tersebut kepada orang lain.

     3.   Stadium tiga

Apabila sampai pada fase ini pengidap HIV tidak mendapatkan penanganan maka virus akan lebih cepat untuk melemahkan kekebalan tubuh. Pada fase akhir ini infeksi akan berubah menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS.

Beberapa gejala AIDS yang muncul yaitu:

  •  Munculnya infeksi jamur pada tenggorokan, mulut atau vagina
  •  Kulit akan lebih mudah mengalami memar
  • Terjadinya pendarahan pada mulut, hidung, vagina atau anus tanpa penyebab yang jelas
  •  Kekuatan otot akan menghilang dan refleks otot menurun
  •  Muncul sariawan pada lidah atau mulut dengan adanya lapisan keputihan yang tebal
  • Sering mengalami demam dan berkeringat di malam hari

PENCEGAHAN HIV/AIDS

Hingga saat ini belum ada vaksin yang ditemukan untuk mencegah terjadinya infeksi pada HIV.

Namun, beberapa pencegahan dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya infeksi HIV antara lain:·

  • Tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah.
  • Menghindari perilaku berganti-ganti pasangan seksual.
  • Jika melakukan hubungan seksual menggunakan kondom, pastikan selalu dalam keadaan yang baru.
  • Menghindari penggunaan narkotika terutama melalui suntikan.

PENGOBATAN HIV/AIDS

Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS, namun penderita dapat mengonsumsi obat-obatan yang dapat memperlambat terjadinya perkembangan virus.

Jenis obat tersebut yaitu antiretroviral (ARV). Obat ARV akan memperlambat virus HIV untuk menggandakan diri serta mencegah virus untuk menghancurkan sel CD4. Jenis obat ARV antara lain Etravirine dan lamivudin.

Selama pasien mengonsumsi obat ARV akan dilakukan pemeriksaan secara berkala oleh dokter pada viral load dan sel CD4 pasien. Pemeriksaan tersebut untuk melihat respons pasien terhadap pengobatan yang dilakukan. Monitoring viral load dan sel CD4 akan dilakukan setiap 3-6 bulan selama masa pengobatan.

Yang perlu diperhatikan yaitu ketika pasien didiagnosis menderita HIV harus segera mengonsumsi obat ARV agar virus HIV tidak berkembang lebih cepat. Apabila pengobatan ditunda maka akan meningkatkan risiko infeksi pada virus untuk berkembang menjadi AIDS.